Antara Obama, Isreal, dan Palestina.

5

Written on 15:33 by Tico

Euforia pelantikan sudah berakhir. Pesta – pesta dansa sudah usai. Dan seorang Barrack Obama telah resmi memimpin negeri adidaya, Amerika Serikat. Banyak pihak yang menunggu bagaimana sepak terjang Obama bagi dunia, tidak, salah, bagi Amerika.

Dan yang paling ditunggu – tunggu dunia adalah bagaimana reaksinya atas konflik yang terjadi di jalur gaza antara Palestina dan Zionis Israel. Setelah lebih dari 3 pekan lamanya serangan – serangan udara, mortir, tank, fosfor putih yang menggempur wilayah gaza yang hanya membuat anak – anak yang tidak berdosa dan perempuan – perempuan Palestina menjadi korban kebiadaban mereka, akhirnya Obama bisa menentukan sikapnya atas perang yang terjadi di wilayah timur tengah itu.


Entah mengapa sebelum menjadi presiden dia tidak, atau belum, menentukan sikap dan bereaksi atas peperangan, tidak bukan peperangan, tapi serangan Israel atas Palestina. Aku juga tak yakin kenapa. Tapi yang pasti, Obama yang beberapa bulan terakhir ini terus menerus menjadi pusat perhatian dunia karena begitu fenomenalnya dia, tetaplah sama dengan para pendahulunya. Sebutkanlah Bush ada di sana.

Ya, begitu banyak harapan yang disematkan kepada presiden kulit hitam pertama AS ini. Harapan – harapan yang berhapar dapat membawa dunia ini ke arah yang lebih baik. Lebih damai. Namun apa lacur, harapan tinggal harapan. Ekspektasi yang berlebih pada seorang Obama yang oleh banyak orang dinganngap dapat membawa kebaikan pada dunia ini, ternyata omong kosong belaka.

Mungkin benar, Obama dapat membawa kebaikan bagi negaranya sendiri, Amerika. Obama mungkin dapat mengeluarkan AS dari lubang keterpurukan krisis global. Mengeluarkan kebijakan – kebijakan yang bermanfaat bagi negaranya sendiri. Tapi tidak bagi Palestina, negara yang sudah berpuluh – puluh tahun dijajah di wilayahnya sendiri. Negara yang dijajah di usir sendiri.

Harapan bahwa Obama dapat mengakhiri konflik di Gaza hanyalah bualan belaka. Obama masih sama seperti pendahulu – pendahulunya di gedung putih. Setelah dengan resmi Obama menjadi orang nomor satu di Amerika, Obama mulai menentukan sikap atas konflik yang terjadi saat ini. Sikapnya adalah mendukung diplomasi kedua negara yang sedang bertikai dengan tujuan akhir kedua negara dapat hidup berdampingan dengan damai. Namun ada satu sikap yang jelas – jelas memperlihatkan keberpihakan Amerika ke Israel. Yaitu, mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri. Yang dengan sangat jelas – jelas kita tahu bahwa serangan Israel ke Palestina atas dasar alasan untuk mempertahankan diri dari serangan roket Hammas.

Dengan dikeluarkannya pernyataan itu dari mulut Obama, sudah jelas Amerika tetaplah berada di belakang Israel. Berada di belakangnya sebagai sekutunya yang paling sekat dari negara manapun yang ada di muka bumi ini. Jadi marilah kita tidak usah terlalu berharap banyak pada orang kulit hitam ini. Tidak usah menaruh harapan – harapan yang pada akhirnya hanya jadi harapan kosong. Amerika tetaplah amerika. Sekutu Israel yang paling dekat, siapapun pemimpinnya. Mereka hanya berganti kulit luar saja, tetapi isi dalamnya masih sama.


Read more...

Penyesalan Di Hari Rabu

0

Written on 22:43 by Tico

Hari ini hari rabu. Sama seperti hari rabu sebelum - sebelumnya. Ayam masih berkokok dan awan masing bergantung di atas sana seperti payung.

Seperti yang tertulis di judul postingan ini, ada kata penyesalan di situ. Mungkin kau bertanya kenapa aku memasang kata penyesalan di judul postingan kali ini. Jadi hari ini, ceritanya, tadi pagi, si Lina bulet ngirim sms yang isinya ngasih tahu kalau dia mau ke PS (palembang square) hari ini sama temen satu groupnya, Noli.

Tidak tahu pasti apa tujuannya ke PS, apakah hendak bermain - main di kota kesenangan (fun city) untuk menambah pundi - pundi tiket yang telah berjumlah 700an, atau untuk mencari kostum baru buat konser berikutnya. Rencananya tiket yang sudah terkumpul akan ditukar dengan sebuah boneka warna merah jambu.
Setelah itu si Lina bulet nanya apakah aku mau ikut atau tidak. Kalau mau ketemuan saja di sana.




Langsung saja kujawab ya.

Dengan segera langsung mengambil handuk dan kemudian menyiapakan baju yang ingin kupakai untuk pergi kuliah. Dengan sigap aku menuangkan air panas di dalam ember.
10 menit berselang aku telah siap dengan tas backpack di punggung. Aku mengeluarkan motor dari dalam rumah dan mulai menghidupkannya. Tak sempat kupanasi lagi motor itu. Langsung saja ketika hidup kutancap gas dalam - dalam.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di PS, karena jarak rumahku dengan PS tidaklah terlalu jauh.

Sesampai di sana, aku langsung menuju sebuah tempat yang bernama ayam penyet. Ya, kalau kau lihat dari namanya pastilah kau tahu kawan bahwa itu sebuah tempat makan yang di dalamnya ada ayam penyet.

Di sana tidak ramai, sepi malah. Hanya ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati makanan di hadapannya. Salah satu dari pengunjung itu adalah si Lina bulet. Dia duduk sendiri di meja ujung di dekat kaca yang menghadap keluar. Tampaknya dia tak sadar kalau aku sudah ada di sana. Mungkin terlalu asik dengan sambal ayam penyet yang memang sangat sedap itu, mungkin. Entahlah, aku juga tak yakin.

Aku melihat ada yang beda dari penampilannya saat itu. Beberapa saat setelah itu aku baru sadar kalau yang membuat penampilannya berbeda karena dia baru saja potong rambut. Ya, dia baru saja potong rambut. Memang kemarin dia bilang kalau hari ini mau potong rambut. Mau menghilangkan "balak" katanya. Tapi entahlah, aku juga tak yakin apa balak itu benar - benar bisa hilang.
Si Lina bilang kalau Noli tidak jadi ikut. Aku tanya kenapa. Dia bilang Noli tidak ikut karena tau aku ikut. Aku tidak enak hati.

Dari sana kami lanjut ke arena bermain, Fun City. Aku menukar uang 20ribuan dengan 20 koin perak berat yang ditengahnya terdapat tulisan "FUN CITY". Dan kau tahu, tak perlu waktu lama untuk menghabiskan 20 koin itu.
Ketika sedang mencari permainan apa lagi yang hendak dicoba, aku bertanya padanya apakah hari ini mau masuk kuliah atau tidak. Dia menjawab tidak. Dan kami pun melanjutkan "petualangan" kami di arena bermain itu.

Waktu menunjukan pukul 12 lewat. Aku kembali bertanya padanya apakah hari ini mau kuliah atau tidak. Sempat kulihat keraguan di wajahnya sebelum dia menjawab kuliah saja hari ini.

Jujur, aku sempat kecewa mendengar jawabannya karena aku juga memang tidak terlalu semangat kuliah hari ini. Pelajarannya membosankan pikirku dalam hati.
Kami akhirnya keluar dari PS sekitar jam setengah satuan. Jarak dari PS ke kampus tidak terlalu jauh. Ada jalan pintas yang biasa aku lewati kalau hendak ke kampus.
Dan sekarang, di dalam lab pemrograman ini, di depan komputer ini, kami sungguh merasa "MENYESAL", ya, kau tahu kawan, kami "MENYESAL" kuliah hari ini karena sang dosen, tidak memberikan tugas apapun pada kami. Mengabsenpun tidak. Tapi entah juga, aku tak tahu pasti.

Beberapa saat berselang setelah kami masuk, dia pergi keluar. Kau tahu alasannya kawan? Alasannnya adalah dia hendak makan siang. Dan dia berpesan kepada kami bahwa kami tidak usah nakal. Ya, tidak usah nakal katanya. Sungguh suatu wejangan yang sangat bagus bagi kami yang sudah berusia kepala 2 ini.
Dan akhirnya, kami memang "menyesal" kuliah hari ini.



Read more...

Pernahkah Kau, Kawan ?

0

Written on 16:20 by Tico

Sekarang, aku berada disini. Di dalam sebuah mobil hasil keringat ayahku. Dengan kaki kanan terangkat santai di atas dashboard mobil dan sepasang tanganku dengan lincahnya mengetik keypad - keypad handphone yang diatasnya terdapat deretan - deretan alphabet.

Aku sendiri disini. Mengamati sekelilingku yang ramai. Mengamati orang - orang di sekelilingku yang entah dengan semangat atau lesu menjalani hidup ini.

Aku pun begitu. Pernahkah kau kawan merasa bahwa hidup ini terasa sangat membosankan? Pernahkah kau kawan merasa tidak ada sedikitpun semangat untuk melakukan sesuatu? Pernahkah kau kawan merasa bahwa dunia ini menjauh darimu?



Kalau kau berbalik bertanya padaku, maka aku akan menjawab pernah.

Aku pernah berada pada satu titik dimana semua terasa menjauh. Dimana dunia serasa berlari sendiri meninggalkanku dibelakangnya. Dimana tiada semangat yang tersisa dalam badan ini. Dan percayalah kawan, kau tidak akan suka berada pada titik itu.

Terbesit dipikiranku apa yang membuat dunia ini menjauh. Yang membuat aku merasa bahwa hanya ada aku seorang di dunia ini. Begitu sepi.

Aku merenung.

Aku berpikir.

Aku berkelana dalam dunia dimana dunia itu hanya ada aku dan pikiranku.

Lalu aku mulai memahami bahwa mungkin selama ini aku tidak terlalu peduli dengan sekelilingku. Aku tidak pernah benar - benar mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekelilingku. Terlalu asik dengan duniaku sendiri. Cuma terlalu peduli dengan diriku seorang. Akulah yang sebenarnya berlari pergi. Akulah yang sebenarnya menjauh. Diriku sendirilah penyebab semua ini. Penyebab mengapa aku merasa dunia ini menjauh. Karena sebenarnya dunia ini tidak pernah menjauh. Dia tetap disitu. Tetap ditempatnya dan duduk manis.

Jadi aku bisa berkata bahwa dunia tidak pernah menjauh, kitalah yang membuat dunia terasa menjauh. Dan akhirnya kawan, janganlah kau buat sampai dunia ini terasa menjauh darimu.


Read more...

Raditya Dika Di Empat Mata

3

Written on 17:56 by Tico

Yups, tadi malam sebelum tidur saya menyempatkan diri untuk nonton teve. Duduk manis di kursi dan mulai mencet tombol power yang ada di ujung remote. Setelah kepencet, maka teve nya otomatis hidup.

Beberapa menit saya habiskan buat gonta - ganti channel yang asik buat ditonton. Dan setelah beberapa lama, pilihan saya jatuh pada channel trans tv yang pada saat itu sedang muterin acara empat mata. Disitu saya melihat bintang tamunya ada rafi ahmad, evi tamala dan tante amerika (feby febiola). Well, da lama juga ga nonton empat mata. Acaranya kayak biasa, si tukul ngasih pertanyaan ke bintang tamu dari pertanyaan yang muncul di layar laptopnya.



Dan selang beberapa saat, tukul manggil satu orang bintang tamu lagi yang katanya blogger. Saya terkejut ketika tukul nyebutin namanya, raditya dika. Sesaat setelah tukul nyebut namanya, si raditya dika langsung keluar dari backstage dengan lari - lari kecil sambil bawa ember, trus ngeloncatin kursi yang ada di panggung sambil bagi - bagiin ember itu buat bintang tamu yang laen, dan sudah itu langsung kayang di depan panggung. Ck ck ck. Semua bintang tamu yang ada langsung melongo heran.

Well, emang kalo orang yang belum tahu siapa raditya dika mungkin akan mikir kalo gayanya terlalu over atau mungkin malah cari sensasi. Tapi bagi yang udah tahu mungkin dah paham kalo orangnya emang kayak gitu.

Saya juga sebenarnya agak kaget juga pas lihat dia langsung kayang di depan panggung, kok kesannya kayak over gitu. Tapi entahlah, apa emang over atau gimana saya ga tahu. Yang pasti gue tetep suka baca bukunya.

Ngomongin masalah kuliah, sekarang saya sedang dalam proses pembuatan proposal laporan akhir dimana laporan akhir ini terakhir dikumpulnya besok. So rencananya hari ini sudah mau saya kumpul. Just wish me luck yo!!

Read more...

Well, It's 2009 !!

0

Written on 17:34 by Tico

Halow semuanya.. Da lama saya ga update neh blog.. Mungkin terakhir dan beberapa bulan yang lalu..

Baiklah, sekarang saya akan mulai lagi untuk menulis di blog. Seperti kata seorang teman, "jangan dak katek hasil be maen internet". Dan saya berpikir kalo menulis di blog merupakan suatu hasil dari maen internet. Entahlah benar atau tidak.

Sekarang sudah tahun 2009 dan itu artinya ini merupakan tahun terakhir saya di Politeknik Negeri Sriwijaya. Dan syarat untuk lulus dari Poltek adalah harus membuat Laporan Akhir. Dimana untuk jurusan saya Teknik Komputer, laporan akhir biasanya berupa alat.

Nah rencananya alat yang akan saya buat adalah kotak sampah otomatis. Saya membuat alat ini barengan dengan someone special saya, my luphly girl, lina. :)


Saya tahu kedepannya akan berat karena semua orang tahu membuat laporan akhir tidaklah mudah. Butuh banyak biaya, butuh pengorbanan waktu, dan pastinya butuh tenaga ekstra. Harapan saya cuma simpel, semoga alat ini bisa jalan tepat waktu.

Oh iya, saya juga punya harapan di tahun 2009 ini. Harapan saya adalah lulus dari politeknik negeri sriwijaya, bisa kerja, kuliah lagi nyambung S1, dan menerapkan pola hidup sehat. 8)

Well, sekian dulu untuk postingan kali ini.
Will be right back soon..

See ya!!



Read more...

Minggu Tenang Yang Benar – Benar Tenang

4

Written on 19:47 by Tico


Yup. Senin tar gue bakalan ngadapin yang namanya semesteran. Sesuatu yang buat gue jadi ga bisa tidur tenang di kala malam telah tiba.

Jadi, sebelum semesteran itu biasanya kita dikasih beberapa hari buat belajar di rumah, istilahnya minggu tenang. Dulu pas masih awal – awal kuliah dulu, gue sempat bingung dengan istilah minggu tenang. ”Apaan seh ini?”, pikir gue saat itu. Tapi setelah dijelasin sama teman – teman satu kelas yang lain, gue baru ngerti definisi dari minggu tenang.


Tapi tau ga sih lo, fungsi minggu tenang yang ”katanya” buat di belajar di rumah malah ga dimanfaatin buat belajar di rumah. Atau istilahnya malah maen aja, tidur – tiduran aja dirumah, males – malesan, dan hal – hal ga penting lainnya.

Oke, emang sebagian besar ada yang belajar serius dengan tekunnya di depan tumpukan buku pelajaran yang banyak dengan ikat kepala warna putih melingkar di kepala khas anak muda jepang belajar (yang ini untuk Indonesia kayaknya ga deh). Mereka ga mau nyia – nyiain kesempatan sedikitpun minggu tenang yang diberikan untuk leha – leha (baca: malas – malasan). Contoh orang yang serius tekun belajar adalah pacar gue. Coz tadi malem sempet videocall ma dia dan trus gue ngeliat setumpuk buku yang terbuka dengan syahdunya tergeletak di atas kasurnya dia. ”Emang bener - bener rajin.” pikir gue saat itu.

Tapi guys, ada juga yang dengan santainya malah ga belajar. Sibuk dengan urusan lainnya yang sama sekali ga ada sangkut pautnya dengan semesteran. Misalnya, maen komputer, online internet (kayak gue), sibuk blogging, dll. Gue kasih contoh satu orang yang di minggu tenang ini bukannya belajar, malah asik dengan kesibukannya yang baru yaitu blogging . Dia temen satu kelas gue. Gue tahu dia ga belajar pas kemarin gue lagi OL, trus buka blog gue, dan liat ada comment dari dia. Secara logika kalo dia kirim comment ke gue berarti dia ga mungkin banget ada di depan tumpukan – tumpukan buku yang menggunung kayak cewe gue saat itu. Penjelasan yang paling pas untuk dia adalah sedang berada di di depan monitor di sebuah warnet yang entah ada di mana dengan tangan tak lepas dari keyboard. Sungguh malangnya nasibmu nak. Bertobatlah.

Jadi intinya, ga semua orang belajar dengan tekun pada saat minggu tenang. Emang ada yang belajar seh. Tapi menurut gue banyakan yang ga belajar daripada yang belajarnya. Banyakan yang bengongnya daripada ngapal – ngapal rumus yang rumit. Banyakan yang ngupil pake telunjuk daripada jempol (loh loh??).

Tapi jangan salah ya, gue tetap belajar kok. Malah di hari pertama minggu tenang, pagi – paginya gue langsung duduk rapi didepan buku buat belajar. Tapi tetep, Cuma 1 jam.

Udah itu?

Jangan ditanya, coz gue langsung tidur lagi nyambung mimpi sisa semalam.

:)



Read more...

Ada Apa Dengan Monitor ?

1

Written on 19:39 by Tico


Setelah kemaren CPU gue tercinta yang ga mo idup atau bahasa kerennya rusak. Kini giliran monitor gue yang nunjukin gejala – gejala orang mau melahirkan (enggak ding).

Monitor gue kayaknya emang rusak juga. Sebelum – sebelumnya emang dah keliatan kalo nih monitor rusak. Tapi gejala yang ada ga parah – parah amat. Gejalanya adalah, monitornya kalo udah beberapa jam dipake bakalan goyang gambarnya.


Gue sempet pikir, ”Oh tidak, apakah mataku telah rusak parah sehingga monitor pun ikut bergoyang? Apakah semuanya ini benar – benar terjadi? ”.

Namun untungnya bukan mata gue yang rusak. Coz adik gue yang cewek juga bilang kalo monitornya goyang.

Yang jadi kabar buruk adalah, nih monitor sekarang tambah parah rusaknya!! Pas tadi gue ngidupin komputer, layarnya dengan tiba – tiba langsung menciut di tengah. Jadi keliatan monitornya kayak super ramping gitu.

”Anjrit.”

Jadi, dalam postingan kali ini gue meminta doa dari kalian semua yang baca. Tolong doain monitor gue ga rusak – rusak lagi. Ga ramping – ramping lagi kayak super model yang makannya asli dikit banget. Yang makannya mungkin cuma pisang satu biji satu hati ditambah air putih satu gelas.

Dalam hati gue berkata, ”Aku cuma ingin kamu seperti ini monitorku. Tolong, mengertilah. Mengertilah aku monitorku.”


Read more...